0

Something I've Never Felt Before

Posted on Senin, 24 September 2018

Sulit untuk menolak jatuh cinta kepada dirimu. Karena senyummu sehangat Espresso di pagi hariku, karna indahnya tawamu secantik Latte Art di siang hariku, karena kecupmu semanis Hot Chocolate di sore hariku, dan hangatnya napasmu yang berembus di dekat tengkuk leherku adalah kebahagiaan nyata yang sepenuhnya aku tunggu.

Namun, kesetiaanku yang selalu menunggumu, mungkin belum mampu membuatmu untuk tetap tinggal. Hari ini kau di sini, besok kauakan ke sana dan ke mari. Hari ini kau bersamaku, besok entah dengan siapa, aku bahkan tidak tahu. Kau sengaja simpan jutaan teka-teki yang tidak bisa aku pecahkan, membiarkan aku terus menebak-nebak, membiarkan aku terus berharap, membiarkan aku berdiam dalam muak.

Tidak mungkin kau tak tahu bahwa aku mencintaimu. Tidak mungkin kau tidak menyadari, saat begitu ringan kauangkat tubuhku, menyandarkanku dengan sengaja di dinding, menciumiku dengan bibir lembutmu, dan kau tatap begitu dalam mataku, lalu waktu terhenti di situ. Tidak mungkin kau tidak melihat cinta di mataku. Tidak mungkin kau tak menyadari, perempuan ini hanya padamu memberi hati. Tidak mungkin kamu tidak mengerti, ada aku yang menunggu di sini.

Kau terus berbuat seperti ini. Memelukku, menciumiku, menghabiskan waktu beberapa saat sambil kita berdua menatap langit-langit kamar, lalu saat matahari mulai terik, kau pergi lagi bergumul dengan duniamu, dunia yang tidak pernah melibatkan aku. Mungkin aku hanya kau butuhkan, sebagai penghilang kesepian. Salahku memang, yang terlalu serius mencintai dan menggilaimu.

Sebagai seseorang yang entah dianggap apa olehmu, aku tak berhak meminta dan menuntut. Silakan kau lakukan sesuka hati, lakukan apapun yang kau mau, asal berjanjilah untuk tetap kembali, dan jangan pernah pergi. Karena aku selalu menunggu mu untuk kembali.

I'll never leave you alone, I can be the one you call when you're low, Let me be your home, I'll never lock the door.

Aku yakin, aku tak perlu menanyakan kabarmu ketika kita bertemu, karena senyummu yang manis kala itu sudah menjawab segalanya. Nampaknya kamu sehat-sehat saja. Sinar matamu yang bersinar terang cukup membuatku tenang. Tak berkurang kegilaanku, aku ternyata semakin mencintaimu dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar.

Senyummu yang bisa kunikmati dari jarak sedekat itu pun terus mengguncangkan pikiranku.

Kebahagiaanku berlipat ganda. Senyummu bisa kunikmati tanpa batasan layar smartphone. Kamu mau tahu perjuanganku saat menemuimu? Aku harus menempuh jarak puluhan kilometer, hanya untuk menikmati senyummu. Aku tak tak perduli dengan jarak dan waktu di peta yang kulihat. Hanya untuk merasakan hangatnya jemarimu mengisi sela-sela jemariku. Sekarang, saat sedang menulis ini, kepalaku seakan berputar tak karuan. Sosokmu yang manis dan penuh pesona masih saja berlalu - lalang di pikiranku.

Ini hari ke-lima setelah aku bertemu denganmu pertama kali. kita telah bertemu untuk ketiga kalinya. Kepercayaan dan keyakinanku terjawab juga, jika Tuhan mau, segala yang tak mungkin bisa saja menjadi nyata. Aku tak berharap ini adalah pertemuan terakhir kita. Izinkan aku terus berdoa untuk pertemuan kita selanjutnya. Perbolehkan aku terus mencintaimu dalam diam dan ketakutanku.

Takut? Apa yang kutakutkan? Aku takut jika hanya aku yang histeris sendirian ketika kau tiba-tiba muncul dalam ingatanku. Aku takut jika perhatianku tak benar-benar kau rasakan. Aku takut pada ketidaktahuanmu terhadap sosokku. Aku takut, kamu tak merasakan keseriusan ini, dan aku takut kamu menghilang.

lantas, masih pantaskah aku berharap lebih?




18 Mei 2018 - 01:18

Discussion

Leave a response