Tidakkah kau ingin datang dan membawaku pulang?
Posted on Rabu, 20 April 2016
Pernahkah kamu berpikir tentang cinta yang kamu khianati?
Pernahkah kamu berpikir tentang cinta yang kamu dustakan?
Pernahkah kamu berpikir tentang cinta yang kamu tinggalkan?
Adakah sedikit saja perasaan bersalah dibenakmu? Tentu saja, jawabannya pasti tidak.
Selalu saja malamku kuisi dengan kenangan dan ingatan tentang kita. Bodoh memang, tapi aku sangat rindu. Namun aku harus menerima kenyataan jika kamu memang benar-benar telah pergi. Tapi mengapa aku tetap saja memperjuangkanmu? Jangan tanyakan padaku mengapa, aku benar-benar tidak paham mengapa aku masih bisa mencintaimu dengan banyak jarum dan pisau yang tertancap dihati ini.
Ketika suaramu mulai terngiang di kepalaku, berjuta-juta perasaan rindu datang disaat yang bersamaan. Rindu yang selalu kudiamkan, dan tidak benar-benar aku ungkapkan. Mungkin aku terlalu sibuk, terlalu disibukkan dalam sebuah penantian hingga pada akhirnya hanya tersisa air mata. Apa kau perduli? Tentu tidak, kau tidak pernah memperdulikanku sedalam aku memperdulikanmu.
Sejujurnya aku tau, memang sudah tak ada lagi cinta dimatamu, tapi aku masih ingin mempertahankan "kita" yang masih aku percayai akan keberadaannya. Aku memikirkanmu dalam setiap hal yang aku lalui. Namamu yang aku selipkan dalam doaku, tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Apakah sebenarnya kamu pantas aku perjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan kita nantinya punya akhir bahagia?
Banyak hal yang diam-diam menyerang kita dari belakang. Aku baru sadar, tenyata banyak celah yang tak kita sadari. Dengan mudahnya, kebersamaan yang kita jaga selama ini telah hancur. Aku telah dikelilingi oleh kabut hitam, yang menghalangi pencarianku selama ini. Yang aku inginkan
hanya matahari, bukan kegelapan seperti ini.
Kemana perginya kamu, ketika aku berjuang hanya untuk satu-satunya pria yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Dimana kamu, ketika aku sangat membutuhkan kehadiranmu? Sudah berkali-kali kumaafkan ketidakhadiranmu, Sudah berkali-kali kumaafkan kesalahanmu, Dan selalu kuberikan senyum terbaikku ketika sesungguhnya aku sangat ingin menangis.
Semua ini adalah perjuanganku untuk mempertahankanmu, mempertahankan "kita" yang kau telantarkan.
Inilah perjuangku, yang selalu kau abaikan.
Tidakkah hatimu sedikit saja tersentuh?
Tidakkah kau ingin datang dan membawaku pulang?


Discussion