Jika Kita Tak Saling Mengenal
Posted on Selasa, 22 Oktober 2013
Akhirnya, aku sampai pada posisi ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah terpikirkan olehku. Aku terjatuh terlalu dalam dan berharap begitu besar padamu. Kupikir langkahku sudah benar. Kukira anggapanku adalah segalanya. Namun, ternyata aku salah, menyerah adalah jawaban yang akan kupilih. Walaupun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkanmu.
Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas baru untuk seseorang diluar sana. Hari-hariku tiba-tiba menjadi kosong dan terlihat berbeda. Ternyata ini semua cukup membawa rasa tertekan yang begitu dalam. Mungkin, ini terlalu berlebihan untukmu. Tentu saja kaupikir ini sangat berlebihan karena kamu tak merasakan ada dalam posisiku, kamu tak merasakan betapa sesaknya jadi aku.
Jika aku punya sebuah kemampuan untuk membaca matamu dan menerjemahkan isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas untuk menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta.
Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis? Aku terlalu cepat masuk dalam fase itu tanpa kutahu perhatian itu tak hanya untukku. Aku juga manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari apa yang telah kulakukan untukmu. Aku merasa bahagia saat membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Aku selalu tersenyum ketika detak jantungku berubah jadi tak beraturan karena kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya dalam bentuk tulisan.
Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kautak memilihku adalah hal paling sulit yang tak bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti. Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi di mana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu. Aku hanya temanmu. Hanya temanmu. Temanmu!
Jika kau ingin tahu, aku begitu sesak berada dalam status yang menyedihkan ini. Aku terkatung-katung sendirian. Meminum asam dan garam, namun membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang kulakukan, mengapa matamu masih belum terbuka dan hatimu masih tertutup ragu?
Sejak dulu, harusnya tak perlu kuperhatikan kamu sedetail itu. Sejak pertama bertemu, harusnya tak perlu kusimpan kontakmu dan kuhubungi kamu dengan begitu lugu. Sejak tahu kehadiranmu, harusnya aku tak menggubris. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi.
Iya. Aku bodoh. Puas?
Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir. Ini bukanlah akhir yang ingin kupilih. Seandainya aku bisa memilih cerita akhir, aku hanya ingin mendekapmu, sehingga kautahu di sini aku selalu merasa ingin meledak ketika berdekatan denganmu.


Discussion