0

Sebuah Keadaan yang Berbeda

Posted on Kamis, 19 Juli 2012


Rasanya baru kemarin aku mengenalmu. Dan sekarang aku harus mengenal 'orang baru' lagi...

Rasanya baru kemarin aku semangat sekolah karena ingin bertemu kamu. Namun sekarang aku harus semangat sekolah karna mengingatmu....

Rasanya baru kemarin aku kerumahmu. Dan sekarang aku merindukan rumahmu...

Rasanya baru kemarin kita bercerita face to face dengan penuh ke-labil-an. Rasanya baru kemarin aku menemanimu, bercanda denganmu, dan tertawa yang tentu saja karna mu. Namun sekarang aku harus menangis mengingat itu semua.

Rasanya baru kemarin ya kita merayakan kelulusan SMP kita.

Semua ada masanya....

Masa dimana adanya seseorang yang datang ke kehidupan kita. Ada pula masa dimana orang itu harus menjauh dan pergi. Tanpa sebuah alasan yang pasti semua masa itu pasti akan datang.

Aku merasa kehilanganmu akhir-akhir ini. Ada yang berbeda.... Meski banyak juga yang tetap sama. Caramu menyapa... Cara bercerita.... Dan beberapa hal yang engkau sembunyikan itu terlihat sekali perbedaanmu.

Ketika seseorang telah datang mewarnai harimu dengan warna yang lebih cerah dan beragam dibandingkan aku. Ketika sekarang kamu menganggap orang itu adalah satu-satunya dan terpenting untukmu. Aku hanya bisa terdiam... Terpaku melihat sebuah keadaan yang berbeda. Namun aku tak mungkin menyalahkanmu  dan menyalahkan keadaan yang telah tuhan rangkai sedemikian rupa. Aku tak mau menjadi pengusik dan perusak hidupmu.

Tak apa jika semua ini harus menimpaku. Aku hanya mengkhawatirkanmu... Mungkin ini tanpa sepengetahuanmu tetapi secara diam-diam aku selalu memperhatikanmu dan memastikan engkau baik-baik saja.

Tiba-tiba saja semua tentangmu dan lebih tepatnya tentang kita teringat diotakku. Mengusik kalbu yang paling dalam dan seakan mempekerjakan otak untuk menggali sedalam-dalamnya. Tiba-tiba saja aku terngiang oleh semua kata-katamu yang pernah kudengar. Semua jenis suaramu... Suara tertawamu.. Suaramu saat marah.. Saat serius... Apalagi saat melantunkan melodi-melodi indah yang terekam oleh indra pendengaranku ini.

Kangen. Hanya kata itu yang dapat terukir. Hanya kata itu yang ingin kuberikan padamu. Hanya kata itu pula yang aku rasakan sekarang.

Discussion

Leave a response